Kondangan Kali Pertama

Halo! Perkenalkan nama saya Hida, dan selamat datang di blog saya. Kali ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya kondangan atau menghadiri pernikahan teman setelah sekian lama sejak terakhir kali saya menghadiri pernikahan seseorang sewaktu kecil bersama Mak’e saya. Ini menarik bagaimana seorang perempuan tomboy menghadiri pernikahan? Apakah saya akan memakai baju gamis atau kebaya?

Scroll terus, yaa!

Sebelum itu, saya akan sedikit menjelaskan tentang pengertian dari kondangan. Dikutip dari situs kbbi.web.id, kondangan adalah pergi menghadiri undangan perkawinan dan sebagainya (untuk mengucapkan selamat dan sebagainya). Jadi, kondangan itu tidak hanya menghadiri undangan perkawinan, tetapi juga menghadiri acara-acara lain seperti undangan sunatan atau aqiqahan, misal.

Sudah tidak terhitung berapa kali saya pernah menerima undangan namun tidak pernah menghadirinya. Karena jika saya boleh jujur, sejujurnya saya tidak terlalu suka menghadiri acara-acara seperti itu. Bukan tanpa alasan, ini dikarenakan sebagai berikut:

1. Sulit bagi saya (perempuan tomboy) untuk menemukan baju yang pas dan cocok untuk menghadiri acara-acara seperti acara pernikahan. Kalaupun ada yang cocok, saya merasa tidak percaya diri untuk memakainya. Selain itu, saya tidak bisa memakai hijab lain selain kerudung ‘langsung’ yang biasa anak SMP pakai saat bersekolah. Di mana, menurut saya kerudung seperti itu sangat tidak cocok untuk dipakai menghadiri acara-acara seperti acara pernikahan.

2. Saya tidak bisa berdandan, dan jujur saya tidak memiliki kosmetik atau perlengkapan kecantikan lain selain deodorant, hand lotion, bedak bayi, dan handbody lotion.

3. Saya cukup jarang memiliki uang untuk membelikan hadiah untuk pengantin atau bahkan sekedar untuk memberikan amplop. Termasuk juga untuk uang transportasi dikarenakan saya tidak memiliki motor.

4. Saya seringkali akan merasa pusing saat bertemu orang banyak.

Lalu, bagaimana dengan undangan kali ini? Awalnya saya masih tidak ingin menghadiri undangan tersebut, namun karena Mak’e saya meminta saya untuk datang, maka saya pun akhirnya memutuskan untuk datang.

Selain karena permintaan Mak’e, kebetulan kondisi saya pada saat itu juga sudah berbeda. Di mana, saya sudah mempunyai baju yang menurut saya cukup cocok untuk dipakai menghadiri pernikahan, saya sudah mempunyai kerudung pashmina, saya sudah mempunyai softlens, perihal amplop beserta isinya sudah ditanggung oleh Mak’e saya, dan perihal uang transportasi itu tidak diperlukan karena saya sudah janjian dengan teman pria saya untuk kondangan bareng, dengan kata lain saya nebeng ke dia.

Waktu berjalan, saat itu sekitar pukul setengah 4 sore, sudah ada banyak panggilan yang masuk di hp saya (dibaca: teman yang akan membonceng saya sudah di depan rumah). Saat itu saya mengenakan pashmina berwarna mocca, dipadukan dengan baju batik berwarna hijau coklat dan dibalut dengan jaket berwarna hitam, untuk bawahan saya memakai celana chinos berwarna cream, untuk alas kaki saya memakai sepatu berwarna hitam putih, dan untuk aksesoris saya hanya menggunakan jam. Singkat cerita kami berdua pun berangkat menuju lokasi pernikahan.

Jika kalian berpikir, “loh, sampe sini doang ceritanya?”. Jawabannya adalah tidak, karena hal menariknya bukanlah di bagian apa yang saya kenakan untuk kondangan, namun tentang bagaimana ngeness-nya teman pria yang sudah memberikan saya tumpangan yang akan menghadiri pernikahan dari orang yang sudah bertahun-tahun dan sampai sekarang masih ia cintai. Ya! Ini akan sangat menyakitkan sekali!

Teman saya yang selanjutnya akan saya sebut dengan L ini, dia sudah bertahun-tahun mencintai si pengantin perempuan. Namun, Tuhan tidak memberikan jalan yang mulus untuk kisah percintaan ini, dan berakhir dengan si pengantin perempuan menikahi pria lain dan bukan si L.

Sesampai kami berdua bersama teman-teman yang lain di lokasi pernikahan, L, dia menjadi bahan candaan semua teman. Hahaha. Jujur saya sebenarnya pada saat itu saya tidak ingin ketawa karena saya mengerti dan menghormati bagaimana perasaan si L pada saat itu, namun teman-teman mengeluarkan kalimat-kalimat ejekan lucu dan saya pun akhirnya ikut meledek L. Wkwkwk.

“L, mau dibeliin tisu nggak?”
“L, jangan nangis, ya.”
“L, mau nyumbang lagu sedih? Nanti kita sawer.”
“L, tadi doi nyuruh kita untuk foto. Ayuk!”

#MendadakPerubahanGayaBahasa
Dan si L sama sekali nggak mau dong diajak foto bareng pengantin. Jadi kita semua sama sekali nggak ada sesi foto-foto. XD Udah gitu, di salaman waktu awal datang, si L pake lupa ngasih amplop segala lagi. XD Jadi kita semua, termasuk dia harus salaman lagi. Awokawok. XD

Dan mau tau nggak? Dia selama salaman sama sekali nggak mau ngeliat si pengantin cewek. XDD Saya sampai ngakak guling-guling waktu itu. XDD Pasti sakit banget itu yaa. Kita teman-temannya kasihan, sih, tapi ya abisnya lucu banget jadi kita ketawa-ketawa aja. WKWKWK. XD

Sedikit info tentang si L ini, dia ini adalah seseorang yang tergolong humoris. Karena itu, teman-teman tak sungkan untuk meledek dia karena tau dia butuh itu untuk mengurangi kesedihannya. Walau sebenarnya saat saya tanya langsung, dia mengatakan bahwa dia tertawa tapi hati tetap sakit. Sakit di sini dalam artian sakit melihat orang yang dia cinta menikah dengan orang lain. Ini sungguh menyakitkan, bukan?

Nah, belajar dari kejadian si L, saya akan membuatkan tips-tips untuk mengurangi kesedihan saat menghadiri pernikahan dari orang yang masih kamu cinta, dan berikut adalah tips-tipsnya:

1. Jauh-jauh hari, persiapkanlah mental anda. Bila perlu buang jauh-jauh kenangan tentang dia, dan buang juga semua barang termasuk riwayat chat kamu bersama dia. Agar kamu bisa lebih mudah menguatkan mental mu sebelum hari H tiba.

2. Saat berdoa, selain meminta agar selamat di jalan, minta lah juga supaya Tuhan menguatkan mental, hati, dan fisikmu menghadapi paras bahagia dan tampan/cantik dari si pengantin.

3. Datanglah bersama teman-teman, jangan datang seorang diri. Jika kamu tidak punya teman untuk diajak kondangan bareng, saran saya lebih baik kamu tidak usah datang.

4. Pastikan kamu memberikan hadiah atau amplop yang sudah kamu siapkan di salam pertama agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang si L alami. (Plis lah, salaman sekali aja itu udah nyakitin banget, apa lagi harus dua kali?)

5. Ambillah hidangan yang disediakan di prasmanan secukupnya, jangan banyak-banyak, agar tidak memperpanjang durasi kamu berada di lokasi pernikahan tersebut.

6. Jangan mau jika diajak foto bareng oleh si pengantin atau oleh teman-teman anda. Jangan pikirkan mereka, perasaan anda adalah yang paling penting.

7. Segeralah pulang jika sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Jangan mengobrol terlalu lama di lokasi karena itu bisa saja membuat bendungan di matamu jebol.

8. Selama di lokasi, berusahalah sebisa mungkin untuk terus tersenyum dan tertawa, agar orang yang kamu cinta yang pada saat itu sedang sangat berbahagia tidak merasakan kesedihan yang kamu rasakan. (:

Semoga postingan ini bermanfaat.

Sekian dan terima kasih.

Post a Comment

Previous Post Next Post